Prodi Ilmu Sejarah UNY Selenggarakan Workshop dan Tour Bertema “Memahami Wajah Pendidikan Kita: Dekolonialitas Pendidikan Indonesia melalui Majalah Poesara Tamansiswa"

Yogyakarta, 20 September 2025 — Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta menggelar kegiatan Workshop dan Tour dengan tajuk “Memahami Wajah Pendidikan Kita: Dekolonialitas Pendidikan Indonesia melalui Majalah Poesara Tamansiswa”, pada Sabtu, 20 September 2025.Kegiatan ini dihadiri oleh para pegiat sejarah, peneliti muda, serta guru-guru sejarah dari berbagai sekolah di wilayah Yogyakarta. Workshop dilaksanakan di sesi pagi, menampilkan tiga narasumber utama: Dr. Eka Ningtyas, M.A., Kuncoro Hadi, M.A., dan Septian Teguh Wijiyanto, M.Pd., dengan moderator Dara Sylvia, M.A.Dalam workshop ini, para narasumber mengulas secara mendalam tentang bagaimana Majalah Poesara, sebagai salah satu media intelektual pada masa Taman Siswa, menjadi cerminan perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial. Materi yang dibahas mencakup gagasan dekolonial dalam pendidikan, peran Taman Siswa sebagai institusi pendidikan nasional pertama, serta nilai-nilai yang diwariskan dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara.Dr. Eka Ningtyas menekankan pentingnya membaca ulang warisan intelektual Taman Siswa untuk memahami arah pendidikan Indonesia saat ini. Ia juga menjelaskan tentang kerja-kerja digitalisasi Majalah Poesara yang dilakukan sejak bulan Maret 2025 dan telah diunggah sebagai bentuk sharing knowldge di website kembarasastra.com . Sementara itu, Kuncoro Hadi memaparkan isi dan konteks historis Majalah Poesara, serta bagaimana narasi alternatif pendidikan nasional dibangun di dalamnya. Septian Teguh Wijiyanto turut menambahkan perspektif praktis dalam mengaitkan dekolonisasi pendidikan dengan pembelajaran sejarah di sekolah.Setelah sesi workshop, kegiatan dilanjutkan dengan Walking Tour yang mengambil dua lokasi penting dalam sejarah pendidikan Indonesia, yaitu Museum Dewantara Kirti Griya—rumah sekaligus tempat aktivitas pendidikan Ki Hadjar Dewantara, dan Sanggar Candi Sapto Rengga sebagai wujud pendidikan inklusif yang relevan dengan ide-ide Ki Hadjar Dewantara.Kegiatan tour ini bertujuan untuk menghidupkan kembali pengalaman sejarah secara langsung dan kontekstual, serta membangun pemahaman mendalam tentang bagaimana warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara masih relevan hingga saat ini. Para peserta diajak menelusuri artefak, arsip, dan ruang-ruang sejarah yang menjadi bagian penting dari perjuangan pendidikan nasional.Koordinator kegiatan, Dr. Ririn Darini, M.Hum, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Prodi Ilmu Sejarah UNY untuk memperkuat literasi sejarah kritis, terutama dalam konteks dekolonialisasi pemikiran dan pendidikan.“Kami berharap kegiatan ini dapat memperkaya perspektif guru-guru sejarah dan pegiat pendidikan dalam melihat sejarah tidak hanya sebagai narasi masa lalu, tetapi juga sebagai panduan untuk membentuk pendidikan yang lebih merdeka dan berkeadilan,” ujarnya.Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkala untuk membuka ruang dialog antara akademisi, pendidik, dan komunitas sejarah di Yogyakarta.